Ada ungkapan seorang lelaki itu dihargai karena bisa menepati janjinya. Maka, seorang lelaki yang tidak dapat 'dipegang' omongannva, janganlah dijadikan kekasih hati. Bila si dia kerap ingkar janji dengan Anda, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengkaji ulang perasaan cinta itu. Banyak wanita yang saya jumpai mengeluhkan sikap teman kencannya yang berjanji untuk menelpon tapi tenyata bo-hong belaka. "Jika mereka tidak dapat dipercaya untuk hal-hal kecil, bagaimana saya dapat mempercayai mereka untuk masalah-masalah besar?" begitu kata rekan saya, Susan.
Rekan satu ini memang paling benci dengan orang yang suka ingkar janji. Maka, ia kerap menguji cinta kekasihnya dengan tolok ukur ini. "Minggu lalu, Nico, pacar saya berjanji akan pergi bersama ke pesta syukuran naik jabatan seorang teman. Dua jam sebelum acara, ia menelpon dan mengatakan dirinya kecapaian setelah main tenis. Ini bukan kejadian pertama kalinya. Ia sudah cukup sering membatalkan janji pada saya. Kesal deh" cerita Susan. Nada suaranya langsung histeris meninggi. Sebelum ia tambali emosi, saya segera mengakhiri perbincangan dengan berjanji mengajak barengan pergi ke salon.
Susan memang masihy berharap sikap Nico yang suka menyepelekan janji itu suatu saat bisa berubah. Ia menganggap sang kekasih masih bisa diajak bicara baik-baik tentang sikap buruknya itu. Namun yang patut diingat, bila Anda juga dalam situasi seperti ini, Anda harus punya batas waktu. Sampai seberapa lama Anda bisa mentoleransi sikap seenaknya itu. Kalau saya boleh mengutip kalimat yang ditulis Gregory J.P Godek, dalam bukunya 1001 Ways to Be Romantic, "Love does not - cannot - hurt. It's the absence of love that hurts." Cinta itu tidak menyakiti. Kalau menyakitkan, berarti cinta tak ada di situ. Bila Anda kini sedang pusing, badan kurus kering lantaran memikirkan ulahnya, tentu Anda tahu tindakan tepat yang harus diambil? Putuskan saja... Cinta itu tidak menyakiti. Bila menyakitkan, berarti cinta tak hadir di situ.

0 komentar:
Posting Komentar